Benarkah Agenda Pelantikan Presiden Di Pending Setelah Dengar Aspirasi Relawan

Benarkah Agenda Pelantikan Presiden Di Pending Setelah Dengar Aspirasi Relawan ?

Berita Terbaru – MPR ( Majelis Pemusyawaratan Rakyat ) memending atau tunda jam pelantikan Joko Widodo-Ma’ruf Amin sebagai presiden serta wapres 2019-2024. Acara pelantikan di Gedung MPR yg awalnya diagendakan jam 10.00 WIB, Minggu (20/10/2019) pagi, diundur atau di tunda berubah menjadi jam 16.00 WIB. Pergantian waktu pelantikan ini bermula dari pengakuan yg diungkapkan relawan Pro Jokowi (Projo).

Benarkah Agenda Pelantikan Presiden Di Pending Setelah Dengar Aspirasi Relawan

Sebelumnya Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi menyebutkan Presiden Jokowi lah yg memohon waktu pelantikan dirubah. Ia mengatakan kalau Presiden udah mengajukan serta memohon tanggal pelantikan dimajukan satu hari berubah menjadi Sabtu, 19 Oktober 2019.

Hal demikian diungkapkan Ari selesai dia bersama-sama barisan relawan di Istana Merdeka pada Jumat (27/9/2019). Tetapi Komisi Penentuan Umum menyatakan hari pelantikan Jokowi-Ma’ruf masih pada 20 Oktober. Agenda pelantikan tidak dapat dimajukan atau dimundurkan lantaran udah diputuskan mulai sejak awal.

“Masih 20 Oktober 2019,” kata Komisioner KPU Hasyim Ashari terhadap wartawan, Senin (30/9/2019). Hasyim mengatakan, periode jabatan presiden yaitu 5 tahun. Mulai sejak pemilihan presiden langsung pertama tahun 2004, pelantikan Presiden dikerjakan pada 20 Oktober 2014.

“Mulai sejak itu pada Pemilu 2009, Pemilu 2009 serta Pemilu 2019 siklus lima tahunan periode jabatan presiden yaitu 20 Oktober. Sebab itu hasil Pemilu 2019 pelantikan Presiden 20 Oktober 2019, tiada memandang jatuh di hari apa,” tuturnya.

Klarifikasi Sehabis pandangan majunya waktu pelantikan Presiden Jokowi ramai dikupas sampai tidak diterima oleh KPU, faksi Istana serta Projo juga mengemukakan klarifikasi. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mebegaskan kalau Presiden Jokowi tidak sempat memohon biar pelantikan presiden periode 2019-2024 dimajukan satu hari berubah menjadi 19 Oktober.

“Pastinya presiden menyadari perihal ketatanegaraan. (Yg) mengemukakan kan tidak dari Istana. Sampai-sampai (keinginan) itu tidak ada,” kata Pramono. Budi Arie pun meluruskan pengakuannya. Dia menjelaskan, kritikan buat memercepat pelantikan dari 20 Oktober berubah menjadi 19 Oktober itu malahan ada dari Projo.

Kritikan itu diungkapkan waktu Projo serta beberapa pimpinan organisasi relawan berjumpa Jokowi di Istana. “Kami mengajukan terhadap Presiden Jokowi bab pelantikan 19 Oktober 2019. Beliau senyum- senyum saja. Kita semuanya menyadari kalau Presiden Jokowi yaitu pribadi yg patuh ketentuan serta konstitusi. Kami mengharapkan serta meyakini KPU cukup bijak dalam soal ini,” kata Budi Arie.

Budi mengajukan pelantikan jadi hari Sabtu 19 Oktober lantaran menyakini pada tanggal itu akan tambah banyak orang yg ada menjaga pelantikan Jokowi-Ma’ruf di gedung MPR. “Tanggal 19 Oktober 2019 jatuh di hari Sabtu. Keluarga Indonesia sedang enjoy. Kami meyakini juta-an rakyat bakal menjaga Pelantikan Presiden,” kata Budi.

Berlainan dengan hari Minggu 20 Oktober, dimana beberapa orang mau jalankan beribadah serta melakukan olahraga di Car Free Day. Budi pastikan tidak ada fakta politis apa pun dengan kritikan ini, cuma alasan kepraktisan orang saja. Budi pun memiliki pendapat pelantikan pada 19 Oktober 2019 tidak bakal memunculkan kekosongan kekuasaan. “Bila jadwalnya mundur baru problem. Ada problem vacum of power serta tentu memunculkan problem ketatanegaraan, ” kata Budi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *